Senin, 21 Maret 2011

Perkembangan DKI Jakarta

Perkembangan DKI Jakarta
1)  Sejarah Perekonomian DKI Jakarta

Kinerja perekonomian DKI Jakarta dalam kurun dua tahun terakhir (2007-2009) menunjukkan prestasi yang cukup menggembirakan. Kondisi ini tergambar dari pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang mampu tumbuh diatas 5 persen dan diatas pertumbuhan Nasional.
Krisis keuangan global makin dirasakan dampaknya pada semester I/2009, perekonomian Jakarta hanya tumbuh sebesar 5,12 persen. Pertumbuhan ini merupakan terendah selama lima tahun terakhir, namun demikian bila dibandingkan perekonomian dunia yang tumbuh negatif, pertumbuhan ekonomi Jakarta masih terjaga.
Faktor utama melambatnya perekonomian Jakarta dalam satu tahun terakhir adalah kinerja ekspor yang menurun. Negara-negara yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor barang Jakarta mengalami krisis keuangan, sehingga permintaan barang Jakarta mengalami penurunan. Akibatnya sektor industri pengolahan juga mengalami penurunan produksi, yang selanjutnya mempengaruhi sektor perdagangan dan sektor pengangkutan sebagai muara semua hasil produksi.
Struktur perekonomian Jakarta yang didukung oleh komponen ekspor dan impor relatif tinggi mengalami dampak yang cukup signifikan dari krisis keuangan global, namun dengan kemampuan pasar domestik yang tinggi, perekonomian Jakarta tetap mampu tumbuh positif pada tahun 2009.
Sementara dari sisi lapangan usaha seluruh sektor masih tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan. Dan yang mengalami penurunan kinerja paling parah adalah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, restoran.
Kondisi perekonomian di Jakarta membaik selama 2010. Sebelumnya, perekonomian di kawasan Ibu Kota sempat terpengaruh oleh krisis global pada 2008 dan 2009. Namun kondisi mulai membaik pada 2010 dan diprediksi akan tetap meningkat pada 2011.


2)  PAD (Pendapatan Asli Daerah) DKI Jakarta
Sebagai kota metropolitan sektor jasa menjadi andalan Pemprov DKI dalam membiayai pembangunan di Ibu Kota. Sedikitnya dari 70 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari sektor jasa, utamanya pariwisata.
Meningkatnya sektor jasa, berimplikasi positif bagi perkembangan ekonomi di Jakarta. Fauzi Bowo mencatat, perkembangan ekonomi DKI Jakarta kian meningkat tiap tahunnya. Untuk tahun lalu perkembangan ekonomi Jakarta mencapai angka 5,01 persen.
Kedepan ia berharap, ekonomi semakin berkembang hingga mencapai angka 5,5-6 persen. “Kondisi ini menandakan iklim dunia kerja dan dunia usaha kian membaik, sehingga kesejahteraan warga makin baik dan suasana makin kondusif,”terangnya.
Perbaikan ekonomi di Ibu Kota juga didukung dengan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika yang relatif stabil, inflasi yang terkendali, serta kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai sekitar 1,451.904 orang pada 2009.
Karena itu sesuai dengan motto Hut ke-483 Kota Jakarta yang mengusung tekad Jakarta sebagai kota jasa ramah lingkungan, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk mengembangkan pembangunan Ibu Kota ke arah kota jasa.
Salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI di bidang perhotelan, PT Jakarta Tourisindo, menargetkan dapat meningkatkan deviden pada pendapatan asli daerah (PAD) DKI sebesar 25 persen dalam dua tahun kedepan, dari setoran saat ini yang mencapai Rp 3 miliar pada PAD 2009.
Artinya, dalam dua tahun kedepan perusahaan menargetkan setoran deviden pada APBD DKI bisa mencapai Rp 3,75 miliar.
Direktur Usaha PT Jakarta Tourisindo, Alexander Yerris, mengatakan target pendapatan itu juga diasumsikan dengan rencana penambahan kamar atau hotel tahun depan dan target okupansi hotel yang diharapkan tinggi setelah membaiknya pertumbuhan ekonomi di Jakarta saat ini.

3)  Hambatan Pembangunan DKI Jakarta
Hambatan pembangunan DKI Jakarata yaitu kejadian bencana alam.
1.    Faktor-faktor Penyebab Bencana di Provinsi DKI Jakarta

1.1 Geografi
Daerah Khusus IbuKota Jakarta yang luasnya ± 650,40 km menempati posisi yang strategi karena merupakan sentral dari jaringan perhubungan laut, udara dan daratan (Sumatera, Madura, dan Bali). Wilayah DKI Jakarta merupakan tumpuan pertemuan kali atau sungai yang datang dari daerah Selatan mempunyai kemiringan sangat tinggi dan ke Utara semakin rendah. Demikian pula DKI Jakarta terletak di bawah permukaan laut, sehingga dapat dikategorikan Jakarta belum bebas dari ancaman banjir. Hal ini biasa terjadi setiap tahun terutama pada bulan Desember, Januari dan Februari.

1.2 Sosial Budaya
Jakarta merupakan pusat social budaya Indonesia (Centre of Excelence) di bidang pendidikan, kesenian, kepemudaan, wanita, teknologi, kesehatan, banyak berpusatdi kota Jakarta. Bentrokan yang bersifat kesukuan, keagamaan, rasial,
kedaerahan dan masalah tanah sering terjadi apabila kita lalai mengatasinya secara dini. Kesenjangan taraf hidup sering menimbulkan kecemburuan sosial yang mengakibatkan tindak kriminalitas. Masalah lingkungan hidup ini dapat bersumber pada berbagai masalah, yaitu masalah tata ruang pembangunan Nasional yang tepat, masalah kemiskinan dan keterbelakangan penduduk yang menimbulkan pemukiman kumuh dengan segala permasalahannya, masalah potensi akibat tidak terkendalinya industri yang dapat merusak Iingkungan sekitarnya.

1.3 Sumber Daya Manusia
Penduduk IbuKota Jakarta menurut susenas Tahun 2001 berjumlah 9,6 juta jiwa pada siang dan 8,3 juta jiwa pada malam hari. Dilihat dari pertumbuhan penduduk Jakarta cukup tinggi yaitu 0,16 % pertahun, hal ini disebabkan oleh arus urbanisasi yang bertujuan untuk mencari nafkah yang lebih baik dari daerah asalnya.

1.4 Kemajuan Ilmu pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan memberikan dampak positif yang mendorong tumbuh-kembangnya industrialisasi dalam rangka pembangunan nasional. Perkembangan tersebut menuntut penyediaan bahan baku yang makin meningkat. Hal ini menimbulkan kecenderungan untuk mengeksploitasi kekayaan alam sebesarbesarnya yang tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan kerusakan alam itu sendiri dan berakibat malapetaka bagi manusia.

2.    Potensi Bencana Alam di Provinsi DKI Jakarta

Suatu bencana dikategorikan bencana alam, terjadi karena keadaan alam/proses alam secara murni dan dapat juga terjadi akibat ulah manusia. Secara rinci bencana alam di DKI Jakarta dapat digolongkan sebagai berikut :

2.1 Gempa Bumi
Wilayah DKl Jakarta akhir-akhir ini sering dilanda gempa, walaupun Skala Richter tidak sebesar Bengkulu, tetapi perlu diantisipasi.

2.2 Banjir
Bencana banjir melanda semua daerah, bahkan dibeberapa daerah sudah merupakan bencana rutin. Penyebab banjir yang utama adalah banjir kiriman (80 %) dan curah hujan yang tinggi dan tidak berfungsinya saluran, tanggul dan selokan hal ini dialami oleh DKI Jakarta.

2.3 Angin Topan
Bencana angin topan telah menimbulkan kerugian yang besar terhadap harta benda dan perkebunan penduduk maupun jiwa manusia. DKI Jakarta pernah mengalami bencana angin topan tanggal 1 Maret 1982 ( pukul 14.30 ) di Kotamadya Jakarta Utara.

2.4 Gelombang Pasang
Gelombang pasang melanda daerah pantai sebagai akibat adanya gempa bumi yang terjadi di dasar laut, karena terjadi badai di laut. Bencana ini telah menimbulkan kerugian jiwa maupun harta benda. Daerah rawan bencana gelombang pasang di DKI Jakarta adalah wilyah pantai Kotamadya Jakarta Utara.

2.5 Kebakaran
Bencana kebakaran dapat disebabkan oleh karena petir, panas matahari,kemarau panjang, lahan panas/lava dan kealpaan manusia. Di DKI Jakarta bencana kebakaran yang sering terjadi adalah akibat kealpaan manusia, korsleting listrik serta akibat bahan kimia.

2.6 Bencana Kekeringan
Bencana kekeringan sebagai akibat kemarau panjang telah mengakibatkan kerusakan tanaman pertanian dan perkebunan.

2.7 Bencana Kelaparan
Bencana kelaparan yang terjadi masih pada tingkat rawan pangan sebagai akibat gagalnya panen karena musim kemarau panjang. Di DKI Jakarta bencana kelaparan ini akibat gagal panen tidak terjadi karena tidak mempunyai wilayah agraris. Tetapi mungkin terjadi karena tidak adanya kepedulian sosial diantara warganya.

2.8 Bencana Hama Tanaman
Bencana hama tanaman telah menimbulkan kerusakan yang besar pada pertanian dan perkebunan penduduk yang dapat mempengaruhi tingkat produksi, yang mengakibatkan kerusakan besar adalah hama wereng, kutu loncat, tikus, babi, gajah, dan hama sexava. DKI Jakarta pernah diserang hama pada tahun 1975, di daerah Pasar Minggu Jakarta Selatan.

3.   Produk Unggulan DKI Jakarta
Produk unggulan DKI Jakarta yaitu :
·         SDA
Jakarta dengan kondisi geografis lautan yang lebih luas dari daratan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar, yakni berupa sumber daya mineral dan hasil laut.
Sumber daya mineral yang dihasilkan, tepatnya di Pulau Pabelokan, Kepulauan Seribu, berupa minyak bumi dan gas mulai dieksploitasi sejak tahun 2000 dengan rata-rata kapasitas produksi sekitar 4 juta barel per tahun.
Kekayaan laut yang dapat dieksploitasi berupa ikan konsumsi dan ikan hias. Selama lima tahun terakhir, tiap tahunnya rata-rata produksi ikan konsumsi mencapai 123 ribu ton dan produksi ikan hias mencapai 59,86 juta ekor.

4.   Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan DKI Jakarta
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan DKI Jakarta yaitu :
a.    Faktor-faktor eksternal adalah adanya kebijakan otonomi daerah, pembentukan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, pengkajian dan transfer teknologi serta informasi, dukungan pemerintah terhadap pembangunan perikanan laut dan faktor permintaan pelayanan jasa docking yang tinggi.
b.    Faktor-faktor internal yang strategis mempengaruhi keberhasilan UPT. UPMB yang merupakan kekuatan adalah Peraturan Daerah DKI Jakarta, lokasi docking yang strategis, ketersediaan lahan untuk pengembangan, dukungan dana dari pemerintah, dan pemberdayaan sektor swasta di lingkup UPT. UPMB.

5.   Gubernur dan Wakilnya
Gubernur
Nama :                              DR. Ing. H. Fauzi Bowo
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 10 April 1948
Agama :                            Islam
Jabatan :                           Gubernur Provinsi DKI Jakarta
Nama Istri :                       Hj. Sri Hartati
Nama Anak :   Humar Ambiya Bowo
                          Esti Amanda Bowo
                          Dyah Namira Bowo
Alamat :                             Jl. Taman Surapati No. 7, Jakarta Pusat
Pendidikan Formal : SD St. Kanisius (1960)
                                     SLTP Kanisius (1963)
                                     SLTA Kanisius (1966)
                                     Fakultas Teknik Universitas Indonesia (1967)
                                    Teknik Univ. Braunschweig, Jerman (1976)
 Doktor Ingenieur, Univ. Kaiserlautern Jerman, Cum Laude (2000)

Wakil Gubernur
Nama :                                  Prijanto
Pangkat :                              Mayjen Purnawirawan TNI
Tempat Tanggal Lahir :     Ngawi, 26 Mei 1951
Lulus AKABRI :                  01 Desember 1975
Agama :                               Islam
Istri :                                     Widyastuti Andang S
Anak :              Whisnu Putro
                        Putri
Alamat :                             Komplek KODAM, Jl. Otista III, Jakarta Timur
Jabatan :                           Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta
Pendidikan :               SD (1963)
                                     SMP (1966)
                                     SMA (1969)
Pendidikan Militer :    SUSSARGAB (1976)
                                      SUSSARPUR (1985)
                                      SUSKOAD (1990)
                                      SESKO ABRI (1997)
                                      LEMHANAS (2006)
Pendidikan Khusus : SUS PA TURBAK ARHANUD (1980)
                                      SUSJURPAL. 70 (1981)


Sumber :
Perda No.1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007-2012

Jumat, 25 Februari 2011

Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan

HUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI DAN KEMISKINAN
           

Dasar teori dari korelasi antara pertumbuhan pendapatan per kapita dan tingkat kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan dalam distribusi pendapatan. Mengikuti hipotesis Kuznets, pada tahap awal dari proses pembangunan, tingkat kemiskinan cenderung meningkat, dan pada saat mendekati tahap akhir dari pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Banyak faktor lain selain pertumbuhan pendapatan yang juga berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di suatu wilayah/Negara, seperti derajat pendidikan tenaga kerja dan struktur ekonomi.

            Dasar persamaan untuk menggambarkan relasi antara pertumbuhan output agregat dan kemiskinan dapat diambil dari persamaan :

Log Gkt = a + bLog Wkt + ak + Skt                                                                                                      (4.1)

Dalam persamaan tersebut, elastisitas dari ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan terhadap pertumbuhan pendapatan adalah suatu komponen kunci dari perbedaan antara efek bruto (ketimpangan konstan) dan efek neto (ada efek dari perubahan ketimpangan) dari pertumbuhan pendapatan terhadap kemiskinan. Apabila elastisitas neto dan bruto dari kemiskinan terhadap pertumbuhan pendapatan dinyatakan masing-masing dengan g dan l, elastisitas dari ketimpangan terhadap pertumbuhan dengan b, dan elastisitas dari kemiskinan terhadap ketimpangan dengan d, maka di dapat persamaan :

l = g + bd                                                                                                                     (4.2)

            Untuk mendapatkan elastisitas bruto dari kemiskinan terhadap pertumbuhan dan elastisitas dari kemiskinan terhadap ketimpangan (pertumbuhan sebagai variable yang dapat dikontrol), digunakan persamaan :

Log Pkt = w + Log Wkt + Log Gkt +wk + vkt                                                              (4.3)

Dimana :        Pkt = kemiskinan untuk wilayah k pada periode t
                        Wkt dan Gkt seperti di persamaan (4.1)
                        wk = efek-efek yang tetap atau acak
                        vkt = term kesalahan

            Kemiskinan tidak hanya berkorelasi dengan pertumbuhan output agregat atau PDB atau PN, tetapi juga dengan pertumbuhan output di sektor-sektor ekonomi secara individu. Peningkatan 1% output di sektor pertanian mengurangi jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sedikit di atas 1%, persentase pertumbuhan yang sama dari output di sektor industry dan di sektor jasa hanya mengakibatkan pengurangan kemiskinan antara 1/4% hingga 1/3%.

            Model yang digunakan untuk mengestimasi pengaruh dari pertumbuhan PDB terhadap tingkat kemiskinan pada prinsipnya sama seperti persamaan (4.3). Sedangkan untuk mengukur relasi antara kemiskinan dan pertumbuhan sektoral, persamaannya adalah sebagai berikut :

LnP = a + b1LnY1 + b2LnY2 + b3LnY3 + u + R                                                       (4.4)

Dimana P adalah kemiskinan yang didefinisikan sebagai suatu fraksi dari jumlah populasi dengan pengeluaran konsumsi di bawah suatu tingkat pengeluaran minimum tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya atau garis kemiskinan; Y mewakili tingkat output per kapita di tiga sektor : pertanian, industry pengolahan, dan jasa; sedangkan u dan R adalah term kesalahan.

            Ada suatu korelasi negative antara tingkat pendapatan dan kemiskinan, semakin tinggi tingkat pendapatan per kapita semakin rendah tingkat kemiskinan.

            Elastisitas pertumbuhan PDB dari pendapatan per kapita dari kelompok miskin adalah 1%, yang artinya pertumbuhan rata-rata output sebesar 1% membuat 1% peningkatan pendapatan dari masyarakat miskin. Sedangkan hasil estimasi dari Timmer (1997) bahwa elastisitas tersebut hanya sekitar 8%, yang artinya kurang dari proporsional keuntungan bagi kelompok miskin dari pertumbuhan ekonomi.

            Di Indonesia laju pertumbuhan PDB/kapita rata-rata per tahun yaitu -0,81% sedangkan perubahan kemiskinan rata-rata per tahun 0,67%.

            Perhitungan elastisitas kemiskinan yang umum digunakan di dalam literatur mengenai pembangunan ekonomi di NSB untuk mendapatkan variasi-variasi di dalam sensitivitas dari penurunan kemiskinan terhadap pertumbuhan. Elastisitas ini biasanya diinterpretasikan sebagai persentase perubahan kemiskinan untuk suatu kenaikan 1% dalam laju pertumbuhan ekonomi. Dalam teori, elastisitas-elastisitas kemiskinan member kesan suatu pola pertumbuhan yang lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan karena kesenjangan yang berkurang dalam distribusi pendapatan dan tingkat-tingkat yang rendah dari kesenjangan awal.

            Studi-studi empiris lainnya yang juga membuktikan adanya suatu relasi negatif (trade-off) yang kuat antara laju pertumbuhan pendapatan dan tingkat kemiskinan adalah dari Deininger dan Squire (1995-1996). Studi mereka ini yang juga memakai data lintas Negara sangat menarik karena tidak menemukan suatu keterkaitan yang sistematis walaupun relasi antara pertumbuhan PDB dan pengurangan kemiskinan positif. Lainnya, misalnya hasil penelitian dari Ravallion dan Chen (1997) yang menggunakan data dari survei-survei pendapatan/pengeluaran konsumsi rumah tangga (RT) di 67 NSB dan Negara-negara transisi untuk periode 1981-1994 juga menunjukan bahwa penurunan kemiskinan hamper selalu berbarengan dengan peningkatan pendapatan rata-rata per kapita atau standar kehidupan, dan sebaliknya kemiskinan bertambah dengan kontraksi ekonomi. Hasil plot antara perubahan laju kemiskinan (dalam log) dengan rata-rata atau nilai tengah dari pengeluaran konsumsi atau pendapatan antarsurvei menunjukan suatu tren yang negatif. Sedangkan hasil studi empiris yang dilakukan oleh Mills dan Pernia (1993) dengan metode yang sama (analisis lintas Negara) menunjukan bahwa kemiskinan di suatu Negara akan semakin rendah jika laju pertumbuhan ekonominya pada tahun-tahun sebelumnya tinggi, dan semakin tinggi laju pertumbuhan PDB semakin cepat turunnya tingkat kemiskinan. Juga, studi yang dilakukan oleh Wodon (1999) dengan memakai data panel regional untuk kasus Bangladesh menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi mengurangi tingkat kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan.

            Jadi, dalam perdebatan akademis selama ini mengenai hubungan antara pertumbuhan dan penurunan kemiskinan, pertanyaan pokoknya adalah : apakah pertumbuhan ekonomi memihak kepada orang miskin? Dalam akhir 1990-an, term “pertumbuhan yang prokemiskinan” (sebut PPG) ini menjadi terkenal saat banyak ekonom mulai menganalisis paket-paket kebijakan yang dapat mencapai penurunan kemiskinan yang lebih cepat lewat pertumbuhan ekonomi dan perubahan distribusi pendapatan. PPG secara umum didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang membuat penurunan kemiskinan yang signifikan. Dalam usaha memberikan relevansi analisis dan operasional terhadap konsep tersebut, di dalam literature muncul dua pendekatan. Pendekatan pertama memfokuskan pada keyakinan bahwa orang-orang miskin pasti mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi walaupun tidak proporsional. Artinya, pertumbuhan ekonomi memihak kepada orang miskin jika dibarengi dengan suatu pengurangan kesenjangan; atau dalam perkataan lain, pangsa pendapatan dari kelompok miskin meningkat bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini disebut juga definisi relative dari PPG. Walaupun secara intuisi menarik, pendekatan atau definisi ini terbatas, terutama saat diterapkan di dalam suatu konteks operasional. Dalam definisi PPG ini, pertumbuhan bisa mengurangi kesenjangan. Namun, dengan memfokuskan terlalu berat pada kesenjangan, suatu paket kebijakan bisa mengakibatkan hasil-hasil yang suboptimal bagi kedua kelompok rumah tangga (RT): RT miskin dan RT nonmiskin; atau laju penurunan kemiskinan bisa lebih kecil (World Bank, 2005).

            Pendekatan kedua fokus pada percepatan laju pertumbuhan pendapatan dari kelompok miskin lewat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan dengan memperbesar kesempatan-kesempatan bagi orang-orang miskin untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan, yang hasilnya memperbesar laju penurunan kemiskinan. Bukti empiris memberi kesan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah penggerak utama laju PPG, tetapi perubahan-perubahan dalam kesenjangan bisa memperbesar atau mengurangi laju tersebut. Jadi, mempercepat laju PPG mengharuskan tidak hanya pertumbuhan yang lebih pesat, tetapi juga upaya-upaya untuk memperbesar kemampuan-kemampuan dari orang-orang miskin untuk mendapatkan keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang di ciptakan oleh pertumbuhan ekonomi. Dengan penekanan pada akselerasi laju pengurangan kemiskinan, pendekatan ini konsisten dengan komitmen masyarakat dunia terhadap tujuan pertama dari Mellinium Development Goals (MDG), yakni pengurangan setengah dari proporsi dari masyarakat di sunia yang hidup kurang dari 1 dilar AS per hari (disebut kemiskinan ekstrem) antara tahun 1990 dan tahun 2015.

            Hubungan antara pertumbuhan ekonomi atau peningkatan output dan kemiskinan menghasilkan suatu dasar kerangka pemikiran, yakni efek trickle-down dari pertumbuhan ekonomi dalam bentuk peningkatan kesempatan kerja atau pengurangan pengangguran dan peningkatan upah/pendapatan dari kelompok miskin. Dengan asumsi bahwa ada mekanisme yang diperlukan untuk memfasilitasi trickle-down dari keuntungan dari pertumbuhan ekonomi kepada kelompok miskin, pertumbuhan ekonomi bisa menjadi suatu alat yang efektif bagi pengurangan kemiskinan.


Sumber : Perekonomian Indonesia (Tulus Tambunan)

Rabu, 24 November 2010

Promotional Mix

PENDAHULUAN


Dalam pemasaran ada yang disebut marketing mix / bauran pemasaran. Ada 4 macam, yaitu :
  1. Produk
  2. Price
  3. Place
  4. Promotion
Promotion Mix ada 4, yaitu :
  1. Publisitas yaitu memberikan gambaran tentang manfaat dan kelebihan produk
  2. Personal Selling yaitu promosi dari rumah ke rumah
  3. Periklanan yaitu pemberian informasi mengenai diskon / sale
  4. Promosi Penjualan yaitu pemberian potongan penjualan

PEMBAHASAN


Material adalah toko yang menjual berbagai kebutuhan alat dan bahan bangunan seperti palu, paku, genting, pasir, dll. Toko material yang dimiliki Bapak H. Lutfi Alkhatiri yang beralamat di jalan Salemba Tengah / 65B Telp. 3153905 Jakarta Pusat memiliki 9 orang karyawan. Karyawan-karyawan Pa Lutfi bekerja setiap hari senin sampai jum'at dari pukul 08.00 am sampai 04.00 pm sedangkan hari sabtu dari pukul 08.00 am sampai pukul 12.00 pm dan hari minggu libur.

Di toko material ini, pembelian bisa dilakukan secara kredit namun ada batas waktu yang ditentukan, yaitu sekitar 2 minggu, dan bila pembelian dilakukan secara tunai atau selambat-lambatnya 3 hari pembayaran maka akan diberi diskon sebesar 10%.


PENUTUP


Dilakukannya promotion mix dengan cara promosi penjualan bertujuan untuk meningkatkan jumlah konsumen dan meningkatnya keuntungan setiap penjualan alat dan bahab bangunan tersebut. Promosi yang dilakukan pada konsumen agar konsumen lebih ringan dalam hal pembayaran.

SUMBER


Bapak H. Lutfi Alkhatiri
Dosen pengantar bisnis, Ibu Widyatmini

Kamis, 28 Oktober 2010

Tugas terbaru Studentsite

STUDENTSITE


1. Home
    yaitu halaman utama pada studentsite, pada home terdapat tampilan login studentsite-UG,      cara aktifasi account, berita studentsite, satu account untuk semua yang memudahkan mahasiswa untuk menggunakan aplikasi yang telah terintegrasi, akses dari mana saja. Ada pula layanan view studentsite member, dan tertera kemudahan studentsite-UG. Namun kekurangan pada home yaitu didalam home tidak terinci infonya, hanya garis besarnya saja.

2. Aktifasi
    yaitu layanan untuk mengaktifasi pada studentsite. Dalam halaman ini ada 3 step yang harus di ikuti. Namun kekurangan pada aktifasi studentsite, kita harus mengaktifasi berulang-ulang, dan kadang data kita terbalik sehingga kita harus konfirmasi pada panitia. Pada step selanjutnya kita harus mengupload foto yang ukuran memorynya kecil, apabila terlalu besar kapasitas memorynya maka foto tidak akan terupload.

3. Kontak
    yaitu layanan untuk mengirim pertanyaan / keluhan / saran yang bersangkutan dengan studentsite. Dalam form ini kita harus mengisi nama, email, dan pesannya, lalu kita kirim. Tetapi pada layanan ini kita tidak dapat tahu kapan akan menerima balasan.

4. FAQ
    yaitu layanan apakah mahasiswa aktif Universitas Gunadarma ataupun alumnus Universitas Gunadarma dapat melakukan registrasi??
Pada FAQ, dibahas bahwa hanya mahasiswa aktif Universitas Ginadarma yang dapat melakukan registrasi studentsite. Ada tanda panah di kanan bawah, apabila tanda panah tersebut di klik maka akan kembali pada layanan aktifasi.

5. Help
    adalah layanan untuk membimbing dalam pengaktifan studentsite. Di dalam help terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat userid pada Integrated Virtual System Universitas Gunadarma, yaitu :
  1. Verivikasi data
  2. Registrasi studentsite
  3. Studentsite aktif 
Dibawah kanan ada tanda panah, apabila di klik akan muncul layanan untuk aktifasi studentsite.




Link yang saya tulis yaitu http: //studentsite.gunadarma.ac.id/

Rabu, 27 Oktober 2010

Perusahaan Perseorangan

Perusahaan perseorangan adalah usaha yang pemiliknya hanya satu orang. Individu tersebut dapat membuat usaha tanpa izin dan prosedur tertentu. Semua orang bisa membuat bisnis personal tanpa harus ada batasan untuk mendirikanya. Biasanya perusahaan perseorangan hanya bermodal kecil, terbatas jenis dan modal produksi, memiliki tenaga kerja atau buruh yang sedikit bahkan bisa jadi tidak memiliki tenaga kerja atau buruh, alat teknologi yang dipakai masih sederhana. contohnya tukang baso keliling,tukang asongan,toko kelontong,home industri,dll.


Ciri dan sifat perusahaan perseorangan yaitu :
  1. Mudah di dirikan dan juga mudah untuk di bubarkan
  2. Tanggung jawab tidak terbatas dan bisa melibatkan harta pribadi
  3. Tidak ada pajak, yang ada adalah pungutan atau retribusi
  4. Keuntungan di nikmati sendiri
  5. Sulit mengatur roda perusahaan karena diatur oleh sendiri
  6. Keuntungan yang kecil dan terkadang harus mengorbankan penghasilan yang lebih besar
  7. Jangka waktu usaha tidak terbatas atau seumur hidup
  8. Sewaktu-waktu dapat dipindah tangankan
PERUSAHAAN PERSEORANGAN
PENJUAL BASO KELILING
Pa Ata seorang penjual baso keliling sekitar salemba bluntas. Beliau berjualan setelah magrib sampai sekitar pukul 09.00 pm, namun bila banyak pembeli, sekitar pukul 08.00 pm pun pa Ata sudah bisa pulang karena penjualannya laris. Pa Ata mulai berjualan pada tahun 1965 dengan masih memakai tanggungan pikul untuk tempat penjualannya, namun sekitar tahun 80-an pa Ata berjualan memakai gerobak.
Modal awal pa Ata berjualan baso sekitar Rp. 900.000, yaitu sekitar tahu 1965.
Saat ini modal per hari pa Ata untuk berjualan baso yaitu Rp. 190.000 dan apabila penjualannya menghasilkan untung, saat pulang pa Ata membawa uang Rp. 220.000 sampai Rp. 230.000, sehingga laba per hari penjualan baso pa Ata hanya berkisar Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000. Namun terkadang pa ata tidak mendapat untung atau pun rugi, beliau hanya mendapat untuk makan saja. Dalam berjualan, kadang ada untung atau rugi, begitupun dengan pa Ata. Saat mengalami rugi, pa Ata berhutang pada bos daging, yang akan dibayar keesokan harinya.
Dalam melakukan usahanya ini, pa Ata menjalankannya sendirian tanpa ada bantuan karyawan.
Setiap harinya pa Ata memproduksi bahan-bahan penjualannya sekitar :
  • Baso = 1.25 kg
  • Mie = 0.5 kg
  • Bihun = 0.5 kg
  • Sayur = 0.5 kg
  • Tahu = 18 buah
  • Saos = 2 botol
  • Sambel = 1 botol ( bikin sendiri )
  • Kecap = 1 botol
  • Cuka = 1 botol 
 Meskipun dalam penjualannya, sehari hanya mendapat sekitar Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000. Namun pa Ata tidak jera, beliau terus menjalani usahanya, ya dengan usahanya ini beliau bisa bertahan hidup.

Sumber :
Pa Ata penjual baso keliling
www.google.com

Selasa, 05 Oktober 2010

Bisnis dan Perniagaan Islami

PENDAHULUAN

Bisnis pun masuk kedalam perniagaan islami. Didalam islam tidak disebutkan dan dijelaskan secara rinci masalah bisnis, hanya islam menyebutkan dan menjelaskan secara garis besarnya saja.
Bisnis yaitu suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Bisnis bermacam-macam ragamnya, ada bisnis online, bisnis sampingan, bisnis kecil, bisnis makanan dan minuman, bisnis modal kecil, dan masih banyak lagi.


ISI

Bisnis dilakukan oleh manusia untuk menghindarkan dari mudharat yang menimpanya dan juga mencapai apa yang dia inginkan. Dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, bisnis dapat diartikan sebagai buying and selling; commerce; trade yakni jual beli, perniagaan perdagangan.
Bisnis yaitu interaksi antara dua pihak untuk meraih manfaat dan dalam berbisnis menimbulkan resiko sehingga diperlukan management yang baik untuk meminimalkan resiko tersebut.
dalam agama dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu Fiqih Ibadah dan Fiqih Muamalah. Fiqih Ibadah mencakup shalat, zakat, puasa, haji, dan hal lainnya yang masih berkaitan. Sedangkan Fiqih Muamalah yaitu aspek hukum islam yang tidak berkaitan dengan Fiqih Ibadah, yaitu dalam berbisnis seperti jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dll.
Al-quran mendorong umatnya untuk mencari harta, berikut dorongan-dorongan tersebut :
a. pengulangan kata mal / harta di dalam al-quran sebanyak 85 kali, sedangkan nabi hanya mengulang sebanyak 80 kali
b. penamaan harta yang banyak yaitu al-khair yang secara harfiah berarti baik (QS. Al-baqarah [2]:180)
c. perintah menjadi fadhl yang secara harfiah berarti kelebihan bukan sekedar kecukupan (QS. Al-jumu'ah [62]:9-10)
d. penamaan harta dan anak-anak sebagai Zinat al-hidayat ad-Dunya / hiasan kehidupan dunia (QS. Al-kahfi [18]:46)
e. harta adalah qiyaman lin-nas / pokok kehidupan manusia (QS. An-nisa [4]:5)
f. mengembangkan harta anak yatim sehingga dapat membagi hidup mereka dari pengembangan tersebut, bukan dari modal (QS. An-nisa [4]:5)
g. menulis utang piutang agar harta tidak hilang dan tidak silang pendapat (QS> Al-baqarah [2]:282)
h. naluri mencintai harta benda (QS. Ali-imran [3]:4)
Itu semua dilakukan karena allah swt menciptakan manusia untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumi (QS. Al-hud [11]:61)
Dalam melaksanakan khalifah dibumi ini diperlukan harta benda dan kesucian jiwa, sehingga dikenal doa : "ya allah anugerahilah aku pujian (nama baik) dan kejayaan. Tiada kejayaan tanpa perbuatan dan tiada perbuatan tanpa harta dan tiada harta tanpa kerja."
Islam mengingatkan agar manusia tidak diperdaya oleh harta hasil berbisnis, oleh karena itu al-quran mengatakan bahwa harta benda dan anak-anak kamu tidak lain kecuali ujian, sedang di sisi allah terdapat ganjaran yang agung (QS. Al-taghabun [64]:15)
Rasulullah saw pun bersabda : setiap umat ada bahan ujiannya dan bahan ujian umatku adalah harta benda ( HR. at-Tirmidzi melalui Ka'ab bin iyadh)
Al-quran tidak membahas secara rinci kegiatan ekonomi / bisnis karena persoalan itu sangat luas dan berkembang dari masa ke masa, sehingga al-quran hanya memberi tuntunan umum berupa prinsip dasar yang dapat dijabarkan umatnya sepanjang masa sesuai kebutuhan, secara kondisi sosial dan perkembangan masyarakatnya.


SUMBER

ARIEF HIKMAH
posted by admin on Januaray 14th, 2009
www.google.com